Oleh: muzakki82 | 5 Februari 2012

PERLUKAH PERUBAHAN KARAKTER DAN KULTUR DIPAKSAKAN?

Ketika saya nonton sebuah acara di sebuat stasiun TV, tiba-tiba tertarik pada sebuah acara dialog yang diisi oleh menteri yang sangat bersahaja, ya seorang sosok Dahlan Iskan tampil dengan kebersahajaannya. Cukup menarik dialog saat itu, dan yang paling menarik adalah pernyataan Dahlan Iskan yang bener-bener merasuk dalam hatiku yang paling dalam. Heeeee sedikit lebai neee. Beliau mengatakan “Karakter dan kultur itu tidak bisa diajarkan dan dipaksakan, tetapi bisa ditularkan”.

Sejenak saya berfikir dengan pernyataan itu, apa bener ya? Lantas dalam hati saya mengatakan, bagaimana dengan pendidikan karakter yang saat ini sedang digembar-gemborkan oleh pemerintah. Apakah hal itu merupakan proses pendidikan yang mengajarkan karakter, atau proses pendidikan yang berusaha menularkan dan menyebarkan virus-virus karakter pada peserta didik?. Mudah-mudahan para pendidik tidak memaksakan merubah kultur dan karakter peserta didik, karena sesuatu yang dipaksakan hasilnya tidak baik juga.

Pengalaman saya pribadi, pernah ada salah satu peserta didik konsultasi bahwa dia punya kebiasaan buruk yang tidak bisa dihentikan. Sebagai seorang pendidik saya berusaha menolong untuk menghentikan kebiasaan buruknya itu. Beberapa teknik dan cara sudah saya lakukan, agak sedikit memaksakan, Alhamdulillah sedikit berhasil. Akan tetapi sesuatu yang mengejutkan saya, dia mengatakan kalau apa yang saya paksakan tadi tidak mampu merubah kebiasaan dia secara maksimal. Dia mengatakan bahwa dengan kesadaran dirinya tanpa ada paksaan dan pengawasan dari orang lain, dia mampu merubah dan mengurangi kebiasaannya itu. Hal ini membuka hati saya jika sesuatu yang dipaksakan tidak selamanya baik.

Beberapa kasus yang terjadi di Negara anta beranta, ada seorang pemimpin yang memaksakan anak buahnya untuk begini untuk begitu…baik juga sih maksutnya, tapi dengan sedikit memaksa itu yang membuat anak buahnya beberapa orang kebakaran jenggot. Menurut saya pribadi sebenarnya seorang yang memimpin dengan hati nurani tidak harus memaksakan seperti itu, seorang pemimpin yang baik adalah “Leaders with character”. Seorang pemimpin seharusnya menulari virus-virus kebaikan kepada anak buahnya tanpa harus memaksakannya. Begitu juga sebaliknya, anak buah sebaiknya juga jangan memiliki tingkat imunitas yang tinggi pada virus-virus kebaikan itu. Apabila anak buahnya memiliki imunitas dan kekebalan yang kuat terhadap pengaruh virus-virus kebaikan itu, maka akan sulit mengajak kebaikan itu.

Bahkan terkadang segala sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan terpaksa dilakukan demi memaksakan kebaikan itu, misalnya kegiatan sholat, mengaji dll yang diabsen. Nah..kegiatan semacam itu seharusnya tidak dilakukan apabila tingkat imunitas anak buah rendah terhadap virus kebaikan yang ditebarkan oleh sang pemimpin. Pemimpin tidak perlu menggunakan piranti-piranti semacam ini :

Akan tetapi semua itu diserahkan semua sama Alloh SWT. Untuk mengawasi kegiatan yang sudah diperintahkan. Apapun alat yang akan digunakan tentunya ada kelemahannya, ada saja rencana-rencana licik dari anak buah untuk mengakali kecanggihan alat tersebut. Lebih ekstrim lagi ada yang nyeletuk “ wak klo pke finger print…setelah absen saya pulang aja wes, pkoke sdudah absen” ada lagi lainnya “ kalo pake alat itu, tanganku tak potong ae, tak titipkan teman biar diabsenkan” heaahahahh aneh2 aja. Kalau kita lihat fenomena semacam itu, kita kembalikan saja pada pribadi masing-masing bagaimana menjalankan tugasnya tanpa pengawasan pimpinan, akan tetapi pengawasan melekat dari Alloh SWT.


Responses

  1. gak bisa komen … gak nutuk ilmune ngomong ama profecor

    • mosok se bahasane terlalu berat? biasa ae


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: