Oleh: muzakki82 | 24 Desember 2011

KUTEMUKAN DIRIKU

Abi, itulah nama Habibi yang dikenal sebagai remaja yang sangat taat beribadah, patuh pada orang tua, sopan dalam bergaul, murah senyum kepada semua orang. Disaat ibunya meninggal dunia Abi termenung, memeluk nisan tengadah. Air matanya kering sudah, betapa sayangnya Abi kepada ibundanya sehingga tangisnya tak berkesudahan, matanya memerah, hidungnya meleleh, suaranya bagai suara kucing kecil kelaparan.

Di bawah matahari yang mulai lelah, sinarnya membias wajah, Abi tak bosan menderu-deru berharap pelukan sang Bunda telah tiada, kamboja jatuh bertebaran sang Ayah merangkulnya mengajak untuk pulang ke rumah, tolakan berat dari Abi membuat Ayah tak berdaya lagi, air matanya membasahi rambut Abi .

“Nak…bundamu kini telah tiada di dunia ini, bundamu telah meninggalkan kita, tapi Abi harus ingat!!! Meskipun bundamu telah tiada di dunia, tapi bunda selalu ada di hati kita” ucap ayah dengan sangat lirih.

Abi terdiam tanpa sepatah kata.

Ucapan ayah menumpahkan air mata yang membanjiri muka, rumput di pemakaman turut dalam duka, kesedihan yang tak terkira meleburkan jiwa.

Semenjak dari itu Abi berubah menjadi remaja yang liar, tak pernah mendengarkan ucapan orang tua. Sang ayah selalu berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi Abi, tapi Abi merasa tak berarti apa-apa, hidupnya dibayangi derita, Abi sangat butuh belaian mesra dari bunda, dia merasa tak ada lagi yang menyayanginya.

Malam itu segenap tetangga hadir untuk mendoakan almarhum sang Bunda, lampu neon yang bersinar tak cukup terang untuk menyinari hati Abi, entah kemana ayahnya membiarkan dia pergi tanpa alasan nyata. Di perempatan dekat rumahnya Abi berdiri tegak, pandangannya kosong, hanyalah lampu-lampu jalan yang menghiasi malamnya.

Cukup lama dia terpaku meratapi nasib diri yang tak menentu, menyendiri sepi bersama belaian angin malam yang berhembus menyesakkan dada, suara jangkrik melelapkan kesedihannya, berpikir pelik atas kejadiaan yang menimpanya.

“Tuhan, apakah kau benar-benar ada?,

Selama ini aku selalu menyembah-Mu, apakah aku bersalah kepada-Mu?,

Sehingga kau ambil ibu dari pelukanku, Kau tak pernah adil padaku Tuhan…..“.

Teriak manja dari bibir yang berduka, suaranya mengguncang kesunyian malam, tak sengaja Ustadz yang selalu setia mengajarinya agama terhenti ketika mengendarai sepeda buntut melewati perempatan itu. Matanya dalam, kulitnya sudah sangat keriput urat di jidadnya nampak jelas membiru, di tangannyabutiran tasbih yang mengitari jarinya.

Astaghfirullah hal adzim…. istighfar nak, mengapa kau berbicara demikian?, tak sadarkah kau dengan ucapan itu?“, suara ustadz yang muncul dari gang galap jalan ke desa tetangga.

“Tidak!!!, aku telah lelah dengan hidupku ini, Tuhan memang tak pernah adil padaku“ tolakan keras Abi kepada Ustadz. Seperti suara gelas pecah.

“Adakah gerangan yang membuatmu seperti ini anakku?“ pertanyaan ustadz yang mulai kebingungan melihat tingkah Abi.

“Sudahlah!!! Kau tak tahu apa-apa mengenai hidupku“ Bentak Abi kepada ustadz yang sudah tua itu sambil meninggalkannya pergi.

Karena tak cukup puas ustadz mengurungkan niatnya untuk pergi ke desa tetangga, Beliau berniat untuk menyakan yang sebenarnya pada keluarga Abi.

Setelah panjang lebar ustadz berbicara dengan ayah Abi, ayah Abi bergegas untuk mencari putra satu-satunya itu, namun niatnya dihalangi oleh ustadz, dengan dalih pendewasaan pada diri Abi, oleh karena itu ayah Abi menunggu Abi yang tak pulang hingga larut malam. Dinginnya malam menembus kulit hingga ke sendi-sendi tulang, ayah Abi tetap setia menunggu kehadiran putranya.

Jam dua tepat Abi datang tanpa salam langsung masuk ke kamarnya, ayah memakluminya.

“mungkin Abi masih belum cukup siap untuk ditinggalkan Ibunya, mungkin pula ini adalah salah satu bentuk adaptasi yang akan dilaluinya“ gumam ayah dalam hatinya.

Malam kedua Abi juga meninggalkan rumah tanpa izin dari ayah, dia juga kembali ke tempat sepi yang menemani kesedihannya, tak lama membisu Abi mengalihkan pandangannya pada tempat duduk yang berdebu,  di tempat itu tampak samar seorang pemuda duduk termangu. Dia mendekati pemuda itu yang tak lain adalah Alex, remaja brutal yang sering mabuk, bahkan pernah mengonsumsi NARKOBA.

Tak sungkan Alex brkata pada Abi.

“hai bro… Gue tau lo sekarang sedang frustasi, guepunya cara jitu buat ngilangin itu”

“Maksud kamu?”

“Ikut gue aja, nanti lo juga bakalan ngerti sendiri”

“Baiklah” Tanpa berpikir panjang Abi mengikutinya.

Ternyata Abi yang lugu itu tak menolak saat dicekokin minuman keras, walaupun hati kecil Abi menolaknya namun Abi menginginkan lepas dari deritanya. Tak terasa malam semakin larut, rembulan yang suci menangis menyaksiakan Abi yang tengah mabuk menggelepar tak berkutik lagi, Alex tanpa ragu mengantarkannya pulang kerumahnya.

Setelah mengetahui hal itu hati ayah tersayat-sayat, kemarahannya tak bisa diungkapkan, wajahnya padam melihat putranya lemah takberdaya.

Paginya tanpa bicara Ayah mengajaknya ke luar kota, ternyata Ayah berniat untuk menitipkannya di pesantren yang berada di pelosok desa.

Di hari pertama dia mondok, dia mencoba mempelajari tiap jalan untuk memudahkannya pergi dari pesantren itu, ternyata usaha Abi tidak sia-sia, dia menemukan jalan pintas untuk kabur dari pesantren tersebut, pada malam ketiga disaat para santri belajar mengaji, Abi pura-pura sakit namun usaha itu telah diketahui oleh pengurus pesantren. Setelah situasi mulai sepi Abi memberanikan diri lompat dari pagar pesantren tang cukup tinggi.

Agak lama dia berlari akhirnya dia terjebak pada jalan buntu, karena pengurus pesantren sudah mengetahui niat bulus Abi, maka dengan mudahnya mereka menangkap Abi.

“aaaahhhhh” teriakan Abi yang kepergok, kerinatnya dingin, bibirnya memutih, telapak tangannya pucat.

“mau kemana Abi?” suara yang lembut salah satu pengurus pesantren bertanya kepada Abi.

Abi tak dapat berkata apa-apa.

“kalau memang tidak ada apa-apa mari ikut kami kembali ke pesantren”. Ajak para pengurus yang memergoki Abi.

Waktu merangkak lambat bagai langkah siput, keterpaksaan Abi sirna sudah, kini dia benar-benar kembali kepada jalan yang benar, dia sudah menyadari bahwa yang dijalani adalah salah, Abi sangat kerasan berada di pesantren karena dia bisa mendekatkan diri pada Illahi, ayahnya tak pernah mendatangi, karena ayahnya menekankan kepribadian mandiri pada jiwa Abi.

Tak selamanya hidup sesuai dengan rencana, kebahagiaan Abi di pesantren ternyata ada saja yang iri, Andre salah satu dari temannya yang kurang senag kepada Abi, dia selalu memfitnah Abi, tapi setiap usaha yang dilakukannya tidak pernah membuahkan hasil sedikitpun.

Pagi itu merupakan pagi yang apes bagi Abi, pasalnya saat dia belajar di kelas tas yang ada di kamarnya di kasih uang hasil curian oleh Andre, saat itu pula pesantren sangat geger karena mereka tak pernah menyangka jika di pesantren ada pencuri, akhirnya Ihsan si pemilik uang melaporkan kejadian itu pada Pengurus.

Kegegeran itu terus berkelanjutan sehingga pengurus pesantren berniat melakukan penggeledahan di setiap kamar, di mulai dari kamar ujung yang ditempati santri dibawah usia 15 tahun, selanjutnya giliran kamar Abi, karena memang rencana Andre betul-betul matang akhirnya cara yang satu ini berjalan mulus untuk menghancurkan Abi. Uang Ihsan ditemukan di dalam tas Abi, tanpa adanya toleransi bagi pencuri, pengurus pesantren seketika itu mengusir Abi dari pesantren. Abi suadah berusaha menjelaskan semua, namun pembelaannya tidak di respon sama sekali.

Dengan berat hati Abi keluar dari pondok, dia pulang ke rumah yang cukup lama dia tinggalkan itu, sesampai di rumah Abi tidak di sambut gembira oleh ayah melainkan ayah marah pada Abi.

“Anak gak tau di untung, kurang ajar kamu, kamu seneng ya selalu membuat ayah malu ?, kamu seneng ? ”

Abi menjelaskan yang sebenarnya, namun ocehannya tak berarti apa-apa, karena ayah sudah tidak percaya lagi pada Abi.

“Mulai hari ini, kamu bukan anak ayah lagi, ayah gak pernah punya anak yang suka mencuri seperti kamu, keluar dari sini !!!”

“tapi yah….”

” Tidak usah tapi-tapian, kamu gak usah pulang kesini lagi kalau belum hafal seluruh ayat dalam Al-Qur’an ” Ayah mengusir Abi yang tak bersalah itu.

Abi bingung haru bagai mana lagi, tapi yang dia inginkan adalah kepercayaan dari ayah kembali. Untuk itu Abi memutuskan menetap di salah satu Pesantren Tahfidzul Qur’an.dua tahun tiada kabar dari Abi, ayah sangat merindukannya, saat ayah memperhatikan foto Abi, ternyata hand phone ayah berbunyi, ternyata yang menelpon adalah putra kesayangannya.

“Assalamu’alaikum ayah, ini Abi, sekarang Abi sudah menemukan diri Abi yang sesungguhnya yah, Abi sangat berterima kasih pada ayah, karena ayahlah yang mebuat Abi seperti ini, saat ini Abi berada di sebuah pesantren, ayah tidak usah mengkhawtirkan Abi ya, karena Abi baik-baik saja disini, dan Abi tidak akan pulang sebelum Abi hafal semua ayat Al-Qur’an, Abi ingin menjadi putra yang terbaik bagi ayah, Abi ingin mewujudkan keinginan ayah, sekarang Abi sudah hafal 21 juz yah”.

Tanpa melontarkan sepatah kata, ayah menangis bangga atas prestasi yang ditorehkan putranya.

“Hidup ini memang perjuangan, Hidup juga petualangan, bagaimana cara kita menempatkan diri kita dengan benar, semua itu kembali kepada diri kita, karena dari situlah kita memahami arti hidup yang sebenarnya”.


Responses

  1. nice story

  2. sama dengan ceritamu

  3. suka cerpenmu sob
    ohya, makasih setuju saling follow 🙂

    • trimakasih yo sob…

  4. Ceritanya terlalu berat untuk konsumsi otak sayah yang penuh upil, bos. Tapi intinya udah dapet, bagus.

    • mosok se oom nugros terlalu berat, cerita kmaren menceritakan n nyindir bimo ya oom?

  5. Ini cerpen ku……………………………..
    ada hak ciptanya…………..
    kayak plagiat aja, kurang kreatif………….

    • bukan plagiat neeee…tapi mempopulerkan karya anaknya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: